Selasa, 27 Oktober 2009

situasi kondisi klien kronis


A. SITUASI KONDISI KLIEN KRONIS
Ketika orang mengalami penyakit akut terpencil atau masalah kesehatan dan mencari perawatan, rencana perawatan klien sering fokus pada pemahaman dan persiapan untuk tes diagnostik, medis dan bedah intervensi, dan pemulihan kegiatan. Penyakit akut adalah terbatas dengan serangan, pengobatan, dan penyembuhan tahapan, dan kembali ke klien mereka biasa dengan gaya hidup sederhana, jika ada perubahan yang diperlukan. ketika orang mengalami penyakit kronis namun, rencana perawatan harus beralih dari fokus pada obat untuk fokus pada penyakit dan perubahan gaya hidup. tidak ada fase penyembuhan selesai, dan perubahan gaya hidup yang pasti terjadi sebagai penyakit berlangsung. klien dengan penyakit kronis dan keluarganya harus belajar untuk beradaptasi terhadap perubahan berbagi aspek kehidupan, antara lain:
1. Identitas
2. Peran
3. Relationship
4. Kemampuan
5. Pola prilaku

Tahap Perjalanan Penyakit Kronis
Sebagai penyakit yang menuntut perubahan dalam berbagai aspek kehidupan, Penyakit kronis melalui tahapan, sebagai berikut:

1. Progresif
Tingkat kemampuan meningkat dengan perode sembuh yang minimal. Adaptasi terhadap penyakit dan tuntutan perubahan peran sangat dibutuhkan.
a. Penyakit yang sangat progresif memerlukan peningkatan adaptasi dengan periode waktu yang singkat
Contoh: Penyakit kanker yang tidak berespon terhadap pengobatan.
b. Penyakit progresif yang lamban memerlukan stamina yang lebih besar dalam menghadapi penyakitnya yang berkembang secara lambat.
Contoh: Emfisema, Diabetes Mellitus

2. Konstan/ Menetap
Setelah injuri akut seperti dtroke atau injury spinal cord akan diikuti dengan periode stabilitas fisik dan adaptasi terhadap penurunan fungsi adaptasi atau keterbatasan. Secara umum periode stabilitas dan kebutuhan akan perawatan dapat diperkirakan.

3. Kambuh/ Episodic
Periode kambuh tidak dapat dipredikasi, menyebabkan ketegangan pada klien dan keluarga. Seperti migraine, multiple selerosis mempunyai periode yang bervariasi dengan tanda dan gejala yang minimal sampai dengan tidak ada. Gaya hidup normal menjadi terganggu dengan munculnya periode akut dimana membutuhkan perawatan yang seringkali menyebabkan perubahan peran keluarga.

Prinsip Komunikasi pada Usia Lansia
Diperlukan pendekatan individual tentang kemampuan kognitif , tingkat orientasi, dan penurunan sensori.
Pengkajian kognitif pada lansia, antara lain:
1. Pilih waktu yang tepat,
2. Ruangan cukup penerangan,
3. Intonasi suara dipertahankan,
4. Bilamenggunakan kaca mata atau alat Bantu dengar, anjurkan untuk dipakai,
5. Duduk ditempat yang bias dilihat,
6. Tanyakan pertanyaan dengan lambat dan tunggu respon,
7. Tes tidak akurat bila dilaksanakan pada saat neri atau mendapat obat sedative.




B. TEKNIK KOMUNIKASI TERAPEUTIK PADA PASIEN KRONIS
Area intervensi dan peran Komunikasi antara lain:
1. Mengenal, mengakui dan menerima emosi klien dan keluarga terhadap status fisik dan kebutuhan pengobatan
Cara yang terpenting adalah melalui komunikasi saat mengobservasi dan bekerja dengan klien dan keluarga, perawat harus belajar tentang perasaan dan reaksi mereka merupakan kunci intervensi komunikasi adalah mendengar
Tahapan mendengar yang terapeutik, antara lain:
a. Menyatakan bahwa anda mendengar, seperti pernyataan sederhana bahwa anda mendengar mereka, memberi kesempatan untuk berbicara dan mengemukakan hal yang dipikirkan.
b. Menyatakan isi atau kandungan dari apa yang telah dikatakan, seperti mengulang kembali, memberi kesempatan pada klien untuk klarifikasi, dan melanjutkan atau menggali lebih dalam.

c. Menyatakan kembali emosi yang telah diperlihatkan dengan cara merefleksikan kembali emosi yang telah diekspresikan seperti merespon terhadap tingkat emosional dapat memberikan hasil yang baik dan biasanya memfasilitasi ekspresi perasaan.
d. Menggali informasi lebih banyak dengan cara menunjukan bahwa anda tertarik atau ingin mengetahui lebih jelas tentang hal-hal yang ingin dikatakan atau kebutuhan atau keinginan.

2. Bekerja dengan klien dan keluarga untuk mengidentifikasi pemahaman tentang sakit dan keterlibatan di dalam perwatan serta harapan mereka terhadap petugas kesehatan.
Sering diasumsikan bahwa seseorang dengan sakit kronik dan keluarganya. Mengerti akan proses penyakit dan pengobatan karena mereka telah hidup lama dengan kondisi tersebut menjadi asumsi yang tidak dibenarkan sehingga tujuan yang diharapkan perawat tidak sesuai dengan tujuan klien dan keluarga. Pada perencanaan harus dibuat bersama dan didiskusikan sehingga didapat gambaran tentang pemahaman klien, kemampuan untuk menerima proses penyakit, dampak penyakit serta kemampuan yang diharapkan untuk berfungsi
Jika klien dan keluarga mengalami shock atau denial perlu dilakukan pendekatan dengan fokus, antara lain:
a. Support terhadap emosi mereka
b. Sharing dan menguatkan informasi mendasar tentang sakit dan perawatan rutin, seperti:
1) Mengulang informasi
2) Menulis informasi
3) Secara bertahap menambah detail dan kedalaman penjelasan
Biasanya mereka akan memperlihatkan kesiapannya melalui pertanyaan-pertanyaan dan keingintahuannya tentang apa saja yang telah dilakukan dengan melihat terhadap kemungkinan adanya kesempatan untuk menolong mereka lebih memahami apa yang terjadi dan tujuan intevensi yang dilakukan, seperti:
a) Marah terhadap apa yang terjadi mungkin diarahkan kepada staff
Yang harus dilakukan perawat adalah menerima keluhan dan klarifikasi apa yang menyebabkan klien dan keluarga marah dan hindari perilaku nonverbal yang konfrontasi.
b) Bagaimana interprestasi dan reaksi klien terhadap tanda dan gejala yang dialaminya dapat menjadi petunjuk terhadap pemahaman dan reaksi terhadap penyakit. Hal-hal yang harus diperhatikan perawat adalah:
• Hati-hati melakukan pemeriksan fisik
• Observasi terhadap respon fisik klien
Contoh: Pucat, nadi meningkat, tekanan darah meningkat, berkeringat, meringis, kesulitan tidur.
• Observasi respon emosional klien
Contoh: Menarik diri, Perlakuan iritabel.
• Gali bagimana biasanya mereka mengekspresikan bila rasa nyeri dan stress timbul. Contoh: Apakah cenderung menahan diri atau hanya dirinya yang tahu, apakah mereka mengekspresikan emosinya ketika nyeri dan stress terjadi.
• Jika pengobatan dan perawatan tidak dapat mengurangi keluhan mungkin nyeri merupakan bagian dari masalah
• Ketika klien mengalami kehilangan fungsi fisik atau peran keluarga, kehilangan tersebut dapat diekspresikan sebagai nyeri
• Jika nyeri menjadi kronik dan merupakan fokus utama klien maka masalah dapat berkembang menyangkut keluarga dan sosial, pekerjaan, farmakologik dan dimensi interpersonal
• Keberhasilan penanganan memerlukan pengkajian yang lengkap dari multidisiplin untuk tiap dimensi, diikuti oleh intervensi multidisiplin yang tepat dan konsisten. Dalam hl ini membutuhkan komunikasi yang jelas, konsisten dan terkoordinasi dengan klien dan keluarga.


3. Bekerja untuk menyamakan harapan klien dan professional
Hal-hal yang dibutuhkan untuk mengidentifikasi harapan klien adalah:
a. Sharing informasi tentang proses penyakit dan penjelasan mengenai penanganan terapi, medikasi dan perubahan-perubahan yang mungkin terjadi
b. Menetapkan keperawatan rutin yang tepat dimana klien dapat melaksanakannya
c. Dorong klien dan keluarga untuk bertanya dan berpartisipasi dalam membuat keputusan

4. Koordinasi kebutuhan perawatan dan pengobatan dengan kemampuan dan tingkat energi serta keluarga
Penyakit kronis dapat menurunkan energi klien secara fisik, mental dan emosional. Kekhawatiran financial dapat menjadi stressor utama yang dapat mempengaruhi mental dan emosi. Jika kelelahan menjadi kronik dan berdampak pada kesehatan dan kemampuan secara umum untuk melakukan aktifitas yang diharapkan. Dengan mengetahui bahwa perawat memperhatikan kebutuhan mereka akan mengajarkan mereka untuk mengevaluasi secara periodic.

5. Suport strategi koping yang positif dan penggunaan sumber-sumber multidisiplin yang dibutuhkan.
Peran kunci perawat bekerja dengan klien dan keluarga adalah membantu mereka dapat mengatasi stress dengan sukses dengan strategi yang difokuskan pada:
a. Pencegahan atau menurunan stress
b. Meningkatkan kemapuan untuk menghadapi stress

Cara Berkomunikasi pada Lansia
Berikut ini cara-cara berkomunikas pada lansia, antara lain:
1. Perkenalkan diri dan ulangi setiap waktu,
2. Bicara pelan dan jelas dan beri waktu berespon,
3. Gunakan bahasa yang sederhana,
4. Ikuti respon pasien walaupun lambat dan jangan memberikan informasi berlebihan.


C. . INTERVENSI PADA PENDERITA KRONIS
Bantuan yang diberikan kepada klien dan keluarga ditekankan pada kebutuhan fisik dan psikososial dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan. Kebutuhan dan perubahan kemampuan selalu berubah dipengaruhi oleh usia dan rasa berduka yang disebabkan oleh penyakit yang dihubungkan dengan beberapa hal, antara lain:
1. Kehilangan,
2. Pola keyakinan,
3. Tujuan personal,
4. Perubahan peran,
5. Faktor financial,
6. Metoda koping,
7. Tingkat pengetahuan,
8. Support system.
Rencana keperawatan efektif diperlukan kebebasan, terbuka, komunikasi tanpa henti dengan klien dan keluarga sebagai pusat kesehatan dalam keperawatan (Weaver dan Wilson, 1994).
Intervensi pada klien dan keluarga dihubungkan dengan issue yang pada pengkajiannya perlu mengidentifikasi Kemampuan fungsional dan psikososial, serta kekuatan dan kelemahan. Hal penting yang harus diketahui oleh klien dan keluarga sebagai dampak dari perubahan penyakit pada masa transisi. Adapun faktor-faktor yang harus diidentifikasi adalah
1. Apakah arti transisi bagi klien dan keluarga?
2. Apa harapan klien dan keluarga terhadap adanya perubahan?
3. Bagaimana status fisik dan emosional klien dan keluarga?
4. Apakah klien dan keluarga memiliki pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk melewati masa transisi?
5. Apakah lingkungan mendukung?
6. Bagaimana kebenaran perancanaan yang dibuat untuk membantu pasien dan keluarga dalam bekerja melewati masa transisi?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar